METODE VISUAL SUPPORT DAN TERAPI PERILAKU PADA ANAK KEBUTUHAN KHUSUS

Pesona Moderato FM Madiun

METODE VISUAL SUPPORT DAN TERAPI PERILAKU PADA ANAK KEBUTUHAN KHUSUS

Kasus gangguan tumbuh kembang pada anak yang  di deteksi atau diagnosis oleh dokter anak (tumbuh kembang ) dan psikiater anak, saat ini sudah sangat beragam, mungkin dengan penyebutan atau istilah yang “asing” ataupun yang sudah familiar didengar. Mulai dari ADHD (attention deficit hyperktivity disorder), Auitism Spectrum Diosrder, Speech Delay, global delay dll. tentunya tidak semua anak bisa digolongkan secara “rigid” pada satu kategory. Karena setiap anak memiliki karakteristik dan perilaku secara spesifik yang tidak bisa digeneralisaikan. Bahkan pada satu diagnosis yang sama, autisme, bisa saja memikili gejala dan perilaku yang berbeda. Oleh karena itu pada suatu kondisi tertentu, ada suatu “payung” yang merupakan suatu tempat untuk mewadahi suatu kumpulan gejala, yang disebut dengan spectrum dalam hal ini autism spectrum disorder.

 

Semua gangguan tumbuh kembang anak, saat awal penegakkan diagnosis bisanya menggunakan aspek yang paling “mudah” dilihat, yaitu bahasa dan gerak tubuh/perilaku. Hampir semua ganggguan seperti tersebut diatas, meliputi kedua aspek ini. Misalkan, autisme gangguannya ada pada aspek perilaku (minat yang terbatas dan interkasi sosial), ADHD (gerakan anak yang over aktif, tidak fokus dan mudah bosan), mental retardasi (gangguan dari komunikasi dalam konteks sosial dan kemampuan bantu diri). Meskipun kedua gangguan ini terlihat terpisah, namun pada dasarnya proses pemberian tata-laksananya tidak bisa dibuat secara parsial.

 

Pada kasus tertentu gangguan yang disandang oleh anak, juga disertai dengan gangguan penyerta seperti emosi yang labil, disruptive, agresif dan destruktive. Terutama bagi anak yang belum bisa menyampaikan sesuatu yang dapat dipahami oleh orang lain. Untuk itu perlu ada suatu bentuk tata-laksana atau pembelajaran secara khusus, agar gangguan pada perkembangan anak tadi (aspek bicara dan perilaku), bisa mendekati usia kronologis dari anak. Misalkan anak usia 2 tahun, sudah bisa menguasai beberapa ratus kosa kata dan bisa merangkai 2 kata, seperti “mau susu”, “minta kue” dll. sedangkan untuk kemampuan siap diri-kemampuan untuk duduk di kursi, kontak mata dan memahami perintah sederhana. Namun tidak semua anak memiliki kemampuan untuk bisa mendekati kondisi mainstream. Seperti untuk kemampuan verbal, awalnya anak diminta untuk meniru gerakan oral, membuka tutup mulut, meniup meniru suara (fonologi) dan meniru kata, namun karena usia anak sudah besar (lebih dari 4 tahun, misalkan), bisa dicoba dengan menggunakan media gambar sebagai bentuk representasi suatu aktivitas, benda dll. Khusus bagi penyandang autisme, meskipun kontak mata mereka masih sulit untuk dikondisikan, namun lebih mudah apabila diarahkan dengan menggunakan media gambar. Paling tidak apabila anak belum bisa menyampaikan secara verbal, bisa melakukan kontak mata dan melakukan instruksi dengan perantaraan media/kartu/gambar.

Pada tahap awal pembelajaran menggunakan metode apapun, tidak akan bisa berjalan bila tidak ada joint attention dari anak dan terapist. Join attention artinya menjalin “hubungan” atau konektivitas antara dua individu, agar terjalin suatu “hubungan” tentunya harus ada sesuatu yang menarik agar anak atau salah satu pihak bisa “mendekat”. Upaya untuk mendekatkan anak dengan terapist pada tahap awal inilah yang disebut dengan terapi perilaku, artinya kita berusaha membuat anak menjadi patuh dan mau mengikuti apa yang kita sudah kondisikan.

 

Secara spesifik tidak ada terapi yang tidak menggunakan perilaku sebagai salah satu tolak ukur yang utama, apalagi jenis terapi bagi anak yang overkatif, inatensi dan impulsive. Terapi perilaku juga tidak berdiri sendiri, setelah ada sedikit kepatuhan dari anak, bisa diberikan materi yang berkaitan dengan kendala yang dihadapi. Seperti menirukan gerakan, menyamakan benda identik, instruksi “samakan”, kemampuan untuk “duduk” dengan jangka waktu tertentu. Pada anak berkebutuhan khusus, yang masih kesulitan untuk melakukan percakapan secara verbal/ekspresif, bisa digunakan media gambar sebagai sarana/bentuk bahasa ekspresif atau sebagai jawaban atas pertanyaan tertentu. Misalkan anak diminta untuk menjawab dengan kata tanya, “apa ini?”, “buah apa ini?”, “bentuk apa ini?” dll. Bila belum mampu menjawab secara verbal, bisa diberikan beberapa kartu diatas meja, seperti apel, buku, pensil, mobil. Lalu anak diberikan pertanyaan menggunakan buah apel (sebenarnya). Lalu diberikan pertanyaan, “buah apa ini?”, anak menjawab tidak hanya menggunakan verbal (kalau belum mampu, namun bisa mencari atau mengambil gambar, sesuai dengan apa yang ditanyakan, lalu anak menyerahkan gambar yang diambilnya itu ke terapist.

 

Semua  yang dilakukan diatas adalah bentuk dasar dari proses pembelajaran, visual support. Banyak jenis tata laksana yang menggunakan media visual sebagai bentuk dasar pemberian terapi, diantaranya adalah TEACCH (Teaching Educational, for Autistic Children with Communication Handicap), PECS (Pictures Exchange Communication Systems), COMPIC (Computer Pictograph). Semua ini menggunakan bentuk kartu sebagai sarana komunikasi, baik menjawab atau mengungkapkan sesuatu, misalkan anak ingin ke kamar mandi, maka bagi anak yang belum bisa berkomunikasi, bisa menggunakan/mencari gambar toilet lalu menunjukkan ke arah lawan bicara atau anak ingin minum/kue, maka anak bisa menggunakan media ini untuk menyampaikan keinginannya. Dengan adanya bentuk dan sarana ini, maka diharapkan, emosi anak bisa lebih terkendali dan terbentuk suatu perilaku yang lebih adaptif terhadap perubahan di lingkungannya

Source :

D A L T A    O Z O R A

SEKOLAH ANAK AUTIS & SPECIAL NEEDS

SIDOMULYO RT 11/RW 3, KEC. SAWAHAN, KAB. MADIUN   0819615210

MAYJEND. SUNGKONO NO 62 LANTAI 2, MADIUN

Izin Diknas Kab. Madiun No. 412.9/308/402.107.05/2008

http://autismadiun.blogspot.com                                                  E-mail: ariefbudhisantoso@yahoo.com

Have your say