POLA ASUH PADA PENYANDANG AUTISME

Pesona Moderato FM Madiun

POLA ASUH PADA PENYANDANG AUTISME

Autisme merupakan kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir atau saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibat dari autis tersebut maka anak akan terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif (Baron-Cohen, 1993). Menurut Ginanjar (2001), autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan belajar.

Gejala sudah mulai tampak pada anak berusia di bawah 3 tahun. Widyawati (1997), mengatakan bahwa gangguan autistik atau autisme juga sering disebut autisme infantil. Gangguan ini merupakan salah satu dari kelompok gangguan perkembangan pervasif yang paling dikenal dan mempunyai ciri khas yaitu adanya gangguan yang menetap pada interaksi sosial, 124 Jurnal Kesehatan, Volume VI, Nomor 2, Oktober 2015, hlm 123-129 komunikasi yang menyimpang, dan pola tingkah laku yang terbatas serta stereotip, fungsi yang abnormal ini biasanya telah muncul sebelum usia 3 tahun, dan lebih dari dua per tiga mempunyai fungsi di bawah rata-rata.

Data UNESCO tahun 2011 tercatat 35 juta orang penyandang autisme di seluruh dunia, artinya rata-rata 6 dari 1000 orang di dunia telah mengidap autisme. Sampai saat ini memang belum ada penelitian khusus yang menyajikan data autisme pada anak di Indonesia. Namun bila diasumsikan dengan prevalensi autisme pada anak di Hongkong, dimana jumlah anak usia 5–19 tahun di Indonesia mencapai 66 juta 805 jiwa (BPS, 2010), diperkirakan dari 112 ribu anak autisme terjadi pada rentang usia 5–19 tahun.

Di Indonesia pada tahun 2008 rasio anak autisme adalah 1 dibanding 100, pada tahun 2012 terjadi peningkatan yang cukup memprihatinkan dengan jumlah rasio 1 dari 88 anak. Tahun 2010 jumlah penderita asutisme diperkirakan mencapai 2,4 juta orang. Anak gangguan autisme dapat diatasi dengan terapi secara menyeluruh, misalnya kesulitan komunikasi diperbaiki dengan terapi wicara, masalah perilaku diperbaiki dengan terapi perilaku dan masalah perkembangan motorik yang mempengaruhi kemampuan komunikasi, perilaku dan kognitif diperbaiki dengan terapi okupasi, selain itu dukungan yang kuat dari keluarga dan semua sektor. Di Indonesia, trend peningkatan jumlah anak autisme juga terlihat, meski tidak diketahui pasti berapa jumlahnya karena pemerintah belum pernah melalukan survei.

Setiap tahun, angka kejadian autisme meningkat pesat. Data Centre for Disease Control and Prevention Amerika Serikat menyebutkan, 1 dari 110 anak di sana menderita autis. Angka ini naik 57 persen dari data tahun 2002 yang memperkirakan angkanya 1 dibanding 150 anak (Kompas.com 21/12/2009). Keluarga dengan individu autisme sejak anak masih balita sudah mengalami banyak kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, penyesuaian, menghadapi tuntutan masyarakat. Tingginya biaya penanganan dan sulitnya mendapatkan kesempatan pendidikan juga merupakan tekanan bagi orangtua. Keluarga sangat mengharapkan lingkungan dan masyarakat dapat bersikap lebih empatik terhadap perjuangan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, memahami kesulitan mereka, sehingga tidak mengolok-olok perilaku individu autisme atau menyalahkan orangtua bila individu autisme bersikap tidak seharusnya. Belum jelasnya penyebab kelainan ini, orang tua belum bisa menentukan tindakan preventif apa yang bisa dilakukan.

Anak autisme sering menimbulkan kekeliruan bagi orang tuanya. Jika diperhatikan dari fisik, anak autisme terlihat normal tetapi memperlihatkan perkembangan dan tingkah laku yang berbeda. Pemahaman dan tanggapan yang salah ini akan menyebabkan hambatan yang serius dalam semua bidang terutama bidang kemampuan sosial dan komunikasi. Dewasa ini berbagai pendapat mengatakan, jika anak mengalami masalah yang tidak wajar, maka keluargalah yang menjadi faktor utama penyebab terjadinya masalah pada anak. Keluarga merupakan kelompok dari dua atau lebih individu yang dihubungkan oleh kelahiran, pernikahan, atau adopsi dan tinggal bersama, serta berbagi fungsi sosial lainnya satu dengan yang lain. (Bureau, 2005). Masalah muncul ketika orang tua salah dalam memberikan pengasuhan. Banyak orang tua yang kurang mengerti bagaimana cara memberikan pola asuh pada anak autisme secara optimal, karena pengetahuan tentang pengasuhan yang kurang, menyebabkan anak akan terus menderita autisme, sehingga orang tua tidak mempunyai harapan untuk masa depan anaknya (Luluk, 2002).

Sebagai orang tua, mempunyai anak yang menderita autisme tentunya sangat berat karena anak autisme memerlukan sebuah penanganan khusus dibandingkan dengan anak normal. Orang tua yang memiliki anak autisme akan mengalami masalah yang lebih kompleks dalam pembentukan kepribadian, perilaku dan pemenuhan kebutuhan anak. Sehingga dengan bertambahnya umur anak autisme maka para orang tua harus mengadakan penyesuaian terutama dalam pemenuhan kebutuhan anak sehari-harinya seperti dalam hal memberikan pola asuh dan sebagai orang tua harus bisa memahami tentang perkembangan anak yang menderita autisme agar anak tidak mempunyai masalah yang berkepanjangan, pola asuh yang dapat diberikan pada anak autisme misalnya dengan cara berkomunikasi yang pelan dan tanpa menyinggung perasaan, memberikan perintah kepada anak autisme yang jelas sehingga mudah dimengerti oleh anak (Soetjiningsih, 1998).

Pola asuh permisif Adapun data sebaran pola asuh permisif orangtua sebagai berikut: Berdasarkan data di atas diketahui bahwa dari 20 orangtua yang menjadi responden penelitian, terdapat 10 % orangtua yang memiliki tingkat pola asuh permisif pada kategori sangat tinggi, 20 % orangtua memiliki tingkat pola asuh permisif pada kategori tinggi, 35 % orangtua memiliki tingkat pola asuh permisif pada kategori sedang, 20 % orangtua memiliki tingkat pola asuh permisif pada kategori rendah, dan 15 % orangtua memiliki tingkat pola asuh permisif pada kategori sangat rendah. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pola asuh permisif orangtua siswa autis di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah sedang.

Pola asuh otoritatif Adapun data sebaran pola asuh otoritatif orangtua sebagai berikut: Berdasarkan perolehan data frekuensi di atas dapat diketahui bahwa dari 20 orangtua yang menjadi responden penelitian, terdapat 15 % orangtua yang memiliki tingkat pola asuh otoritatif pada kategori sangat tinggi, 40 % orangtua memiliki tingkat pola asuh otoritatif pada kategori tinggi, 15 % orangtua memiliki tingkat pola asuh otoritatif pada kategori sedang, 15 % orangtua memiliki tingkat pola asuh otoritatif pada kategori rendah, dan 15 % orangtua memiliki tingkat pola asuh otoritatif pada kategori sangat rendah Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pola asuh otoritatif orangtua siswa autis di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah tinggi.

 

Sumber :

DALTA OZORA // SEKOLAH ANAK AUTIS & SPECIAL NEEDS //

Alamat : SIDOMULYO RT 11/RW 3, KEC. SAWAHAN, KAB. MADIUN, HP :  0819615210 // MAYJEND. SUNGKONO NO 62 LANTAI 2, MADIUN // Izin Diknas Kab. Madiun No. 412.9/308/402.107.05/2008 // E-mail: ariefbudhisantoso@yahoo.com

 

http://autismadiun.blogspot.com

 

Have your say