ANJIMILE MENGUMUMKAN ALBUM BARU You’re Free to Go RILIS 13 MARET 2026 DI LABEL 4AD
Penyanyi-penulis lagu asal North Carolina, Anjimile, mengumumkan rencananya untuk merilis album penuh berjudul You’re Free to Go, yang akan dirilis pada 13 Maret 2026 melalui label 4AD. Pengumuman ini disertai dengan perilisan single utama yang bercahaya, “Like You Really Mean It”, sebuah lagu yang penuh kelembutan dan kerentanan emosional, lengkap dengan video musik indah yang disutradarai oleh Caity Arthur.
Anjimile berbagi cerita:
“Aku menulis lagu ini supaya pacarku mau menciumku. Kami tinggal sekitar satu jam berjauhan, dan saat itu aku sendirian, memikirkannya. Memikirkan betapa aku ingin sebuah ciuman. Apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan ciuman dari kekasihku? Menulis lagu tentang itu! Dan ya, ternyata berhasil.”
Single “Like You Really Mean It” dirilis setelah single bulan November “Auld Lang Syne II”, sebuah lagu reflektif yang lembut—seperti surat untuk diri sendiri—tentang ketahanan dan kebebasan yang diperjuangkan dengan susah payah. Lagu ini ditandai dengan petikan senar yang halus, bagian tiup yang menawan, serta vokal yang intim. Media Stereogum menyebut lagu ini “menakjubkan” saat dirilis. Anjimile sendiri mengatakan bahwa lagu tersebut awalnya
“dimaksudkan sebagai semacam hadiah pernikahan untuk sahabat terbaikku, yang menikah beberapa tahun lalu.”
Berbeda dengan kerumitan dan kompleksitas album The King, You’re Free to Go berkembang secara alami di bawah arahan intuitif produser Brad Cook (Waxahatchee, Hurray for the Riff Raff, Mavis Staples). Lagu-lagu dalam album ini mekar dengan alami, berlandaskan gitar akustik yang hangat, tekstur synth yang halus, aransemen string yang kaya, serta lapisan ritme yang lembut. Kolaborasi dengan musisi Nathan Stocker (Hippo Campus), Matt McCaughan (Bon Iver), dan vokalis tamu Sam Beam (Iron & Wine)—seorang pahlawan pribadi bagi Anjimile yang musiknya telah memengaruhi album ini bahkan sebelum keterlibatannya—menciptakan suasana yang eksploratif namun tetap intim, selaras dengan gaya bercerita Anjimile yang penuh nuansa.
Anjimile (dibaca: ann-JIM-uh-lee) Chithambo telah menempuh jalur musik yang khas, ditandai dengan introspeksi yang jujur tanpa kompromi. Berasal dari skena indie Boston saat menempuh studi di Northeastern University, Anjimile memikat pendengar melalui penulisan lagu yang tulus, tekstur suara yang lembut, serta penampilan yang terasa seperti doa sekaligus perayaan.
Pujian kritikus pun segera menyusul. Album Giver Taker (2020), yang disebut Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik tahun tersebut, menempatkannya sebagai suara penting yang mengeksplorasi tema spiritualitas, identitas, dan pembebasan. Melalui The King (2023), Anjimile memperdalam pengamatannya tentang pengalaman hidup sebagai pribadi kulit hitam dan trans di tengah gejolak pribadi dan sosial, sekaligus menegaskan komitmennya yang berani untuk menghadapi ketidaknyamanan sebagai jalan menuju kebebasan.
Album You’re Free to Go melanjutkan perjalanan dari The King, namun dengan sikap yang lebih terbuka. Pertanyaan utamanya adalah: apa yang terjadi ketika kamu melepaskan kendali dan membiarkan cinta masuk?
Dibuat selama bertahun-tahun penuh perubahan, album ini dengan jelas menggambarkan kompleksitas mendalam dari proses perubahan—mulai dari perpisahan hingga cinta baru; dari duka dan kehilangan yang mendalam menuju pembaruan dan penemuan diri kembali.
“Dua tahun terakhir adalah masa transisi yang sangat besar dalam hidupku,” jelas Anjimile. Dalam You’re Free to Go, ia belajar untuk kembali mempercayai hidup.
Judul album ini melambangkan pandangan luas Anjimile tentang cinta dan kebebasan pribadi, yang sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangan serta praktik non-monogami yang mereka jalani dengan penuh sukacita. Ia menggambarkannya dengan cara yang jenaka:
“Aku memandang non-monogami seperti meletakkan susu setiap malam di teras rumah untuk kucing-kucing; mereka boleh datang kalau mau,” sebuah pengingat bahwa hubungan akan tumbuh ketika benar-benar dipilih, bukan dibatasi oleh norma yang kaku. Nuansa bermain ini juga terasa dalam lagu “Rust & Wire”, yang menangkap sensasi jatuh cinta berulang kali (“matang dalam panas seperti anggur”).
Di sisi lain, You’re Free to Go juga menyelami kebenaran yang lebih berat dan gelap. Lagu “Exquisite Skeleton” menggambarkan pedihnya keterasingan dari keluarga, sementara “Ready or Not” menyoroti kelelahan dalam menghadapi transfobia.
“Saat aku masih gadis kecil, aku ingin bebas… Saat aku masih bocah laki-laki, aku ingin menjadi nyata,” ucapnya dengan jujur dalam “Waits For Me”, sebuah perenungan kuat tentang identitas masa kecil. Namun bahkan di momen-momen paling mendalam, album ini tetap memancarkan cahaya. Setiap lagu menyediakan ruang untuk penyembuhan—mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang lembut, bisa dibagi bersama, dan membebaskan.
Spiritualitas tetap menjadi jantung dari karya Anjimile.
“Menulis lagu terasa seperti doa, permohonan, atau pertanyaan,” katanya.
Sepanjang You’re Free to Go, kesakralan terasa hidup dan tidak sempurna—sebuah praktik bernapas, bertanya, dan memaafkan. Album ini bergetar dengan energi sakral yang sama: berantakan, namun penuh anugerah.
Dalam album ini, Anjimile dengan piawai memadukan berbagai pengaruh musik untuk memperkuat dampak emosionalnya. Lagu-lagu seperti “Turning Away” dan “The Store” menghadirkan kejujuran mentah ala karya awal Modest Mouse. Kolaborasi dengan Sam Beam dalam “Destroying You” menambahkan kehangatan lembut yang melengkapi ekspresi vokal Anjimile. Secara melodi, album ini membangkitkan nostalgia samar akan pop alternatif akhir 1990-an, memadukan nuansa folk dengan hook yang akrab dan mudah diingat. Anjimile juga menunjukkan perkembangan signifikan dalam cara bernyanyinya—lebih santai dan ekspresif—sebagian berkat terapi hormonal yang sedang dijalaninya, sebuah perjalanan transformatif yang ia sambut dengan sukacita. Kedalaman vokal barunya ini semakin memperkuat resonansi emosional album.
Saat bersiap membawakan You’re Free to Go secara live, Anjimile membayangkan pertunjukan intim yang menafsirkan ulang lagu-lagu album, bukan sekadar menirunya. Ia berharap keaslian dan kerentanan dalam lagu-lagu ini dapat terasa kuat, seraya menegaskan:
“Album ini terasa sangat jujur terhadap pengalaman hidupku. Ini adalah cara paling dekat untuk mengenalku lewat sebuah rekaman.”
You’re Free to Go adalah potret transformasi—bukan sebagai luka, melainkan sebagai sebuah keterbukaan. Dengan tekstur yang kaya, kumpulan lagu ini merupakan cerminan jujur dari naik-turun kehidupan. Album ini memberi ruang bagi kontradiksi dan menemukan kebebasan dalam kelembutan. Seperti yang diungkapkan Anjimile dengan indah, album ini tentang “bernapas di dalam pertanyaan”, mengakui bahwa momen paling bermakna dalam hidup sering kali hadir tanpa jawaban pasti, melainkan dalam ketegangan lembut antara ketidakpastian dan penemuan. Di setiap nada, Anjimile memberi ruang bagi pendengar untuk merenung dan menemukan kebenaran mereka sendiri, sambil dengan lembut mengingatkan bahwa kebebasan bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan keberanian untuk mencintai, bertanya, dan terus memulai kembali.
Sumber: PRESS RELEASE
